jump to navigation

Jangan Biarkan Hati Anda Menderita Karena Hasad 18 Februari 2010

Posted by iwaniwek in Uncategorized.
trackback

Jangan Biarkan Hati Anda Menderita Karena Hasad
Oleh admin pada Nasehat ; Tazkiyatun Nafs. Ditandai:Hasad, Nasehat. Tinggalkan sebuah Komentar
Oleh : Ustadz Nur Kholis bin Kurdian
Bahaya Hasad
Hasad (dengki) merupakan penyakit hati yang berbahaya bagi manusia, karena penyakit ini menyerang hati si penderita dan meracuninya, membuat dia benci terhadap kenikmatan yang telah diperoleh oleh saudaranya, dan merasa senang jika kenikmatan tersebut musnah dari tangan saudaranya.
Pada hakikatnya, penyakit ini mengakibatkan si penderita tidak ridha dengan qadha’ dan qadar Allah azza wa jalla. Sebagaimana perkataan Ibnul Qayyim rahimahullah: “Sesungguhnya hakikat hasad adalah bagian dari sikap menentang Allah azza wa jalla, karena ia (membuat si penderita) benci kepada nikmat Allah azza wa jalla atas hamba-Nya, padahal Allah azza wa jalla menginginkan nikmat tersebut untuknya. Hasad juga membuatnya senang dengan hilangnya nikmat tersebut dari saudaranya, padahal Allah azza wa jalla benci jika nikmat itu hilang dari saudaranya. Jadi, hasad itu hakikatnya menentang qadha’ dan qadar Allah azza wa jalla.” [1]
Penyakit ini sering dijumpai di antara sesama teman sejabatan, seprofesi, seperjuangan, atau sederajat. Oleh sebab itu, tak jarang dijumpai ada pegawai kantor yang hasad kepada teman sekantornya, tukang bakso hasad kepada tukang bakso lainnya, guru hasad kepada guru, orang ahli ibadah atau ustadz atau kyai hasad kepada yang sederajat dengannya. Jarng dijumpai hasad tersebut pada orang yang beda kedudukan dan derajatnya, seperti tukang bakso hasad kepada kyai atau tukang becak jasad kepada ustadz, meskipun tidak menafikan kemungkinan terjadinya.
Penyakit hasad hendaknya dijauhi oleh setiap Muslim, karena mudharatnya sangat besar, terutama bagi si penderita baik madharat dari sisi agama maupun dunianya. Tidakkah kita ingat, kenapa Iblis dilaknat oleh Allah azza wa jalla? Tidak lain karena sikap hasad dan sombongnya kepada Adam ‘alaihissalam yang sama-sama makhluk Allah azza wa jalla.
Dari sisi lain hasad juga merupakan sifat sebagian besar orang Yahudi dan Nasrani, sebagaimana firman Allah azza wa jalla:
“Ataukah mereka (orang Yahudi) dengki kepada manusia (Muhammad dan orang-orang Mukmin) lantaran karunia yang Allah telah diberikan kepada mereka?..” [QS.an Nisa’/4:54]
Allah azza wa jalla juga berfirman tentang hasad mereka:
“Sebagian besar ahli kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang timbul dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran.” [QS.al Baqarah 109]
Oleh sebab itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang orang Muslim dari sifat hasad tersebut, Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Janganlah kalian memutuskan talit persaudaraan, saling berpaling ketika bertemu dan saling membenci serta saling dengki. Jadilah kalian bersaudara sebagaimana yang telaah diperintahkan oleh Allah. [HR.Muslim]
Sebab-Sebab Hasad
Sumber dan penyabab hasad adalah cinta dunia, baik cinta harta benda, kedudukan, jabatan maupun pujian manusia.
Dunia memang sempit, sering menyempitkan mereka yang memburu dan mencintainya, sehingga tak jarang mereka berjatuhan pada lembah hasad, karena tabiat kekayaan dunia tidak akan bias dimiliki kecuali ia berpindah dari tangan satu ketangan lainnya dan berkurang jika dibelanjakan. Berbeda dengan akhirat yang sangat luas, seperti langit yang tak berujung dan seperti lautan yang tak bertepi. Karena sangat luasnya, sehingga tidak menyempitkan orang yang memburu dan mencintainya, sebagaimana kita tidak menjumpai orang berjejal-jejal untuk melihat keindahan langit di waktu malam, karena luasnya dan cakupannya terhadap setiap mata yang memandang.
Ibnu Sirin rahimahullah berkata, “Aku tidak pernah hasad kepada seseorangpun dalam masalah dunia, karena jika dia termasuk ahli surga, maka bagaimana aku hasad kepadanya dalam masalah dunia, padahal dia akan masuk surga? Dan jika dia termasuk ahli neraka, maka bagaimana aku hasad kepadanya dalam hal dunia, sedangkan dia akan masuk neraka?” [3]
Jika tujuan seseorang adalah akhirat, maka hatinya bersih dari hasad, tenang, jernih seperti air yang memancar dari mata air pegunungan, lembut bagaikan sutera, tidak ada tempat hasad didalamnya. Akan tetapi jika tujuannya adalah dunia, maka hati sangat rawan terjangkit hasad, mudah ternoda dan keruh. Oleh sebab itu, bagi mereka yang mempunyai belas-kasihan terhadap hatinya, hendaknya dia meninggalkan cinta dunia dan menggantikannya dengan cinta akhirat. Karena kenikmatan akhirat tidaklah menyempitkan orang yang memburunya. Ia adalah kenikmatan yang sesungguhnya, kenikmatan yang luar biasa, tidak sebanding dengan kenikmatan-kenikmatan dunia. Kenikmatan tersebut bias dirasakan oleh orang yang sangat mencintainya, mencari dan memburunya di dunia ini. Jika seseorang tidak ingin memburu kenikmatan hakiki tersebut, atau lemah keinginannya, maka dia bukanlah kesatria, karena yang memburu kenikmatan yang hakiki tersebut adalah para kesatria. [4]
Obat Hasad
Setelah kita mengetahui bahwa hasad adalah penyakit hati yang berbahaya, maka tentunya kita ingin mengetahui obat dan terapi hasad tersebut.
Sebenarnya, penyakit hati yang satu ini tidaklah dapat diobati dengan pil atau kapsul dari apotik atau dengan suntik, herbal atau pijat urat, akan tetapi penyakit hati ini hanya dapat diobati dengan ilmu dan amal.
Adapun obat yang pertama adalah ilmu. Ilmu yang bermanfaat untuk mengobati hasad adalah pengetahuan tentang hakikat hasad itu sendiri. Di antaranya, mengetahui bahwa hasad itu berbahaya bagi sipenderita, baik bagi agamanya maupun dunianya. Di dunia, hatinya selalu menderita dan tersayat-sayat, boleh jadi dia mati karenanya. Bagaimana tidak? Dia membenci orang lain yang mendapat kenikmatan dan mengharap nikmat tersebut musnah darinya. Padahal, hal itu telah ditakdirkan oleh Allah azza wa jalla dan tidak akan musnah sampai saat yang telah ditentukan.
Orang yang hasad ibarat orang yang melempar boomerang kepada mush. Bumerangnya tidak mengenai sasaran, tetapi boomerang itu kembali kepadanya, sehingga mengenai mata kanannya dan mengeluarkan bola matanya. Lalu dia pun bertambah marah dan kembali melempar keduan kalinya dengan lebih kuat. Akan tetapi, boomerang itu seperti semula, tidak mengenai mata sebelah kirinya sehingga ia buta. Kemarahannya pun bertambah menyala-nyala, kemudian dia melempar ketiga kalinya dengan sekuat tenaga, akan tetapi boomerang tersebut kembali mengenai kepalanya sampai hancur, sedangkan musuhnya selamat dan menertawakan dia, karena dia mati atas perbuatannya sendiri. Sedangkan diakhirat nanti, dia akan mendapat adzab dari Allah azza wa jalla, jika hasad tersebut melahirkan perkataan dan perbuatan, karena statusnya adalah orang yang telah mendzalimi orang lain ketika di dunia.
Perlu diketahui pula bahwa hasad juga tidak berbahaya bagi orang yang dihasad, baik bagi agama maupun dunianya. Dia tidak berdosa dengan hasad orang lain kepadanya. Bahkan, dia mendapatkan pahala jika hasad tersebut keluar berwujud perkataan dan perbuatan, sebab dia termasuk orang yang didzalimi. Kenikmatan yang ada padanya juga tidak akan musnah karena hasad orang lain kepadanya, sebab kenikmatan tersebut telah ditakdirkan untuknya.
Adapun obat kedua adalah amal perbuatan. Amal perbuatan yang manjur untuk mengobati hasad adalah melakukan perbuatan yang berlawanan dengan perbuatan yang ditimbulkan oleh hasad. Misalnya, gara-gara hasad seseorang ingin mencela dan meremehkan orang yang dihasad. Jika seperti ini, hendaknya dia melakukan hal yang berbeda yaitu memuji orang yang dihasad tersebut. Kemudian jika hasad itu membuatnya sombong kepada orang yang dihasad, maka hendaknya ia taawaddu’ kepadanya. Jika hasad membuarnya tidak berbuat baik atau tidak member hadiah kepada orang yang dihasad, maka hendaknya dia melakukan sebaliknya, yaitu berbuat baik dan memberikan kepadanya hadiah. Dengan seperti ini insya Allah hasad di hati akan segera lenyap dan hati kembali sehat dan normal. [5]
Note:
[1] Al Fawaa’id (hal.157 Cet.Darul Fikr – Beirut)
[2] Shahiih Muslim (Juz 8 / hal.10)
[3] Raudhatul Uqala’ Wanuzhtul Fudhalaa (hal.119 Cet.Maktabah Ashriyah – Beirut)
[4] Mukhtashar Minhaajul Qaasidiin (hal.188-189 Cet.Maktabah Daarul Bayaan – Damaskus) Bittasharruf
[5] Mukhtashar Minhaajul Qaasidiin (hal.189-190 Cet.Maktabah Daarul Bayaan – Damaskus) Bittasharruf
Sumber: Diketik ulang dari Majalah as Sunnah Edisi 06 / Thn.XIII / Ramadhan-Syawwal 1430H / September-Oktober 2009M / Hal.75-76
Tentang Hasad :
Beberapa Tanda Orang Hasad:
Senang dengan kesalahan temannya (yang ia hasad kepadanya).
Senang apabila temannya itu tidak hadir pada urusan yang sedang ia rebutkan bersama.
Senang bila temannya digunjing oleh orang lain.
Menjawab dengan sindiran jika ia ditanya tentang temannya itu.
Merasa sesak jika temannya ditanya atau disuruh berbicara dihadapannya.
Mengecilkan ilmu dan kadar temannya itu.
Berusaha untuk mencari kesalahan ketika temannya berbicara lalu mengkritiknya.
Tidak menyebutkan keutamaan atau suatu faedah darinya.
Obat Penawar Hasad:
Mendoakan kebaikan untuk temannya tanpa sepengetahuannya
Berusaha untuk selalu mencintainya dengan bertanya tentang keadaan diri dan keluarganya
Berkunjung ke rumahnya
Tidak rela bila temannya itu digunjing atau dijelek-jelekkan.
Lebih mengutamakan temannya itu dari pada dirinya
Meminta pendapat atau nasehat darinya
(Diringkas dari kitab Ma’alim fi Thariq Thalab al-‘Ilmi, karya Syaikh Abdul Aziz as Sadhan hal.97-103)
Sumber: Majalah adz Dzakhiirah Vol.7 No.10 Edisi 52 Th.1430/2009 hal.13

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: